25 Sep 2026 Humas Post Dibaca 32 kali

Pengabdian di Loloda ; Dosen UPW Unkhair Perkuat Institusi Tradisional sebagai Ekosistem Kebudayaan dan Pariwisata

Pengabdian di Loloda ; Dosen UPW Unkhair Perkuat Institusi Tradisional sebagai Ekosistem Kebudayaan dan Pariwisata

SOA-SIO LOLODA. — Program Studi Usaha Perjalanan Wisata, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Khairun, menyelenggarakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat bertajuk “Penguatan Institusi Tradisional Kekolanoan Moloku Loloda sebagai Ekosistem Kebudayaan dan Pariwisata di Maluku Utara”, yang berlangsung di Pendopo Ici Kekolanoan Moloku Loloda, Desa Soa-Sio, Kecamatan Loloda, Kabupaten Halmahera Barat, pada Rabu, 24 September 2026.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan oleh Tim Prodi yang memenangkan hibah PKM tingkat Fakultas Tahun 2026 yaitu Mustafa Mansur, S.S., M.Hum  selaku Ketua Tim Pelaksana bersama Sunaidin Ode Mulae, S.S., M.Hum sebagai Anggota Tim Pelaksana. Upaya ini merupakan wujud nyata pelaksanaan Program Kampus Berdampak (Dikti Saintek Berdampak) serta pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) Perguruan Tinggi, sekaligus mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs 17) yang mengutamakan kemitraan, transformasi pengetahuan, dan kerja sama yang bertanggung jawab.

 

 

 

Acara dibuka secara resmi oleh Jo Hukum Kekolanoan Moloku Loloda, Bapak Rusdi Maxud. Dalam sambutannya, beliau menyambut hangat kehadiran tim dari Universitas Khairun dan seluruh elemen masyarakat yang hadir, menegaskan bahwa pertemuan ini bukan sekadar seremonial, melainkan upaya nyata menghidupkan kembali jati diri bangsa yang tak boleh pudar:

“Langkah ini bukan sekadar pertemuan, melainkan upaya menghidupkan kembali jati diri yang tak boleh pudar. Semoga kehadiran kita hari ini menjadi benih yang tumbuh menguatkan kembali keberadaan institusi kita, demi anak cucu Loloda di masa depan.”

Hadir memenuhi ruang kegiatan para pemangku lembaga Kerajaan/Kekolanoan Moloku Loloda, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, perwakilan pemuda, serta warga setempat — segenap unsur yang menjadi fondasi keberlangsungan nilai-nilai luhur masyarakat Loloda.

 

Mengenal Potensi dan Tantangan Loloda

Loloda merupakan salah satu permata budaya Maluku Utara yang menyimpan sejarah panjang dan khas, berdiri sejajar namun dengan corak tersendiri dibandingkan empat kerajaan besar Moloku Kie Raha — Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo. Sejak kelembagaan Kekolanoan dihidupkan kembali pada tahun 2016, harapan besar tertanam: nilai-nilai leluhur tetap hidup, bukan untuk mengulang masa lalu, melainkan menjadi inspirasi membangun masa kini dan masa depan. Namun, dua tantangan mendasar masih dihadapi, yakni: Pertama, Pembangunan infrastruktur belum tuntas: Pendopo Ici yang digagas secara swadaya masyarakat sejak tahun 2025 belum rampung, sehingga belum dapat berfungsi optimal sebagai pusat kegiatan adat, pelestarian budaya, maupun penerimaan tamu. Kedua, Kesadaran kolektif perlu ditingkatkan: Sebagian masyarakat belum sepenuhnya memahami peran dan manfaat institusi adat Kekolanoan di era modern, yang berdampak pada lemahnya dukungan serta keberlanjutan upaya pelestarian budaya dan pengembangan potensi pariwisata daerah.

 

Lembaga Adat sebagai Pilar Kebudayaan dan Pariwisata

Ketua Tim Pelaksana, Mustafa Mansur, S.S., M.Hum., menyampaikan materi utama yang menegaskan posisi strategis lembaga adat sebagai aset hidup yang tak ternilai:

“Dukungan masyarakat terhadap keberadaan institusi tradisional sangatlah krusial. Ketika kita menjaga lembaga ini, kita tidak sedang hidup di masa lalu — kita sedang membangun identitas yang menjadi daya tarik sekaligus kebanggaan. Inilah fondasi ekosistem kebudayaan yang akan membawa manfaat nyata bagi perekonomian masyarakat melalui pariwisata yang berkelanjutan.”

Kegiatan ini menawarkan strategi penguatan menyeluruh yang berjalan pada dua jalur sekaligus: Pertama, Penguatan Fisik–Materiil: Melakukan pendampingan serta menggalang dukungan agar pembangunan Pendopo Ici segera rampung dan dapat difungsikan sebagai pusat pertemuan, pelestarian adat, serta ruang budaya lainnya. Kedua, Penguatan Nonmateriil: Melalui sosialisasi dan dialog, menumbuhkan pemahaman mendalam bahwa lembaga adat bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan identitas yang hidup, kekuatan pemersatu, serta daya tarik wisata yang mampu membawa kesejahteraan bersama.

Tujuannya bukan hanya bangunan yang berdiri tegak, melainkan masyarakat yang merasa memiliki, ikut menjaga, dan mengembangkan warisan leluhur secara berkelanjutan. Pendopo yang nanti selesai dibangun akan menjadi simbol kerukunan, ruang dialog, sekaligus jendela yang memperkenalkan kekayaan budaya Loloda ke dunia luar.

 

Langkah Awal Menuju Kemitraan Berkelanjutan

Kegiatan ini bukanlah titik akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang kerja sama antara Prodi Usaha Perjalanan Wisata FIB Unkhair dengan institusi Kekolanoan Moloku Loloda. Hasil-hasil kegiatan akan didokumentasikan, dipublikasikan, dan ditindaklanjuti melalui pendampingan berkelanjutan. Mahasiswa yang terlibat juga turut belajar langsung dari kehidupan masyarakat, mengamalkan semangat Kampus Berdampak: belajar, berkolaborasi, dan memberdayakan.

Di penghujung kegiatan, satu harapan menguat bersama: Institusi Kekolanoan Moloku Loloda tidak hanya menjadi kisah yang dicatat dalam lembaran sejarah, melainkan kehidupan yang manfaatnya dirasakan setiap warga. Dengan keberadaan pendopo sebagai ruang budaya dan masyarakat yang bangga akan identitasnya, Loloda siap melangkah — menghidupkan jejak leluhur, menjaga warisan budaya, dan membuka pintu bagi masa depan yang lebih cerah dan berkelanjutan.

Â